2589 

Menerapkan Bimbingan Konseling Religius Spiritual dalam Situasi Covid 19 untuk Hidup Berkualitas.

Menerapkan Bimbingan Konseling Religius Spiritual dalam Situasi  Covid 19 untuk Hidup Berkualitas.

 

Dr.Saliyo, S.Ag., M.Si

Ujian yang diberikan Allah swt tentang Covid 19, belum tahu kapan akan berakhir di dunia. Bahkan dalam lingkungan kita sendiri. Permasalahanya virusnya tidak kelihatan, dan begitu mudah untuk menular kepada manusia.

Walaupun demikian sebagai insan yang memiliki Tuhan apalagi umat Islam memiliki Tuhan yaitu Allah swt tetap harus semangat, tetap optimis bahwa semua pasti akan ada akhirnya. Hal yang tidak ketinggalan juga bahwa setiap insan yang beriman tetap  semangat menjalankan ibadah dengan tetap menjaga protokoler kesehatan. Keadaan yang demikian merupakan bentuk ikhtiyar manusia secara dhohir. Situasi yang demikian memang akan merubah pola pikir manusia, kualitas hidup manusia ketika dihadapkan pada situasi pandemi Covid 19. Seseorang akan mudah stress, mudah sakit karena kekebalan tubuh yang menurun. Ditambah lagi dengan keadaan perekonomian yang kurang baik bagi masyarakat.

Perbincangan permasalahan tersebut  sebenarnya telah ditulis oleh Rahman, Mittelhammer and Wandschneider pada tahun 2011. Perbincangan tersebut tertulis dalam jurnal International Journal of Psychology Vol.13,No.1tahun 2019. Isinya bahwa perubahan level income manusia, kondisi kehidupan manusia, status kesehatan, status lingkungan, stress psikologis yang bersumber dari luar, penyesuaian, kebahagiaan keluarga, dan hubungan sosial akan menentukan kualitas hidup seseorang. Konsep kualitas hidup yang dimiliki manusia akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik, perkembangan kepribadian, keadaan psikologis, kemandirian, hubungan sosial, komunikasi dengan lingkungan ataupun persepsi pribadi orang tersebut.

Hasil penelitian tentang kualitas hidup seseorang berkaitan dengan persepsi seseorang. Apabila seseorang memiliki persepsi yang baik pada kesehatan fisik, kesehatan mental, hubungan sosial dan hubungan keluarga, dan harapan hidup, maka kualitas hidup orang tersebut akan baik. Sisi lain kualitas ketaatan seseorang menjalankan spiritual dan religius yang diyakini kebenarannya akan membantu menyelesaikan permaslahan hidup yang dihadapinya. Hasil penelitian tersebut tentunya dapat menjadi salah satu pijakan bahwa dalam situasi pandemi Covid 19, setiap insan yang memiliki keyakinan spiritual dan religius tetap melaksanakan ibadah dengan baik tanpa mengesampingkan protokoler kesehatan.

Situasi yang demikian tentu bagi akademisi ataupun praktisi bimbingan konseling spiritual religius tidak seharusnya berpangku tangan yang hanya diam dan memandang saja. Paling tidak ada langkah sekecil apapun untuk memberikan kontribusi bagi umat yang positif agar dapat meringankan beban yang dialaminya. Di antaranya adalah memberikan pencerahan pandangan, memberikan apresisasi, memberikan dukungan, mengajak  untuk memperkuat perilaku spiritual religius agar hidupnya berkualitas. Kepedulian kegiatan bimbingan konseling spiriutual religius  kelompok ataupun individu   sangat positif  untuk menopang kualitas hidup yang akhirnya akan memperkuat kekebalan tubuh seseorang.

Apabila memahami kualitas hidup seseorang sebenarnya hal tersebut  sudah tersirat dalam  al-Qur’an surat Al-Ma’arij (70 : 19-26).

Artinya : Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir (19). Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah (20). Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir (21).Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat (22).Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya (23). Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu (24).Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta) (25). Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan (26). Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya (27).(Al-Ma’arij, 70:19-26).

Memahami firman Allah tersebut dapat menjadi dasar bahwa kualitas hidup seseorang berkaitan dengan kualitas spiritual dan religius seseorang. Seseorang mengalami kikir (stress) dalam menghadapi situasi pandemi Covid 19 wajar. Seseorang mendapatkan anugerah kikir dan mendapat musibah berkeluh kesah merupakan hal yang umum dialami manusia. Namun bagi orang – orang yang memiliki kegiatan ibadah spiritual religius yang berkualitas maka tidak ada rumus melekat padanya. Apalagi orang tersebut memiliki perilaku kedermawanan. Baginya ada hak dalam harta yang dimilikinya untuk orang miskin, yatim dan lain sebagainya. Orang tersebut juga memiliki keyakinan atas hari akhir dari Allah swt. Keadaan spiritual religius yang demikian akan semakin menambah kekebalan tubuh orang tersebut dalam menghadapi pandemi Covid 19.

Memahami ayat di atas dengan perilaku spiritual religius seseorang para ulama menjelaskan bahwa seseorang yang baik spiritual religiusnya adalah seseorang yang dapat menjaga untuk selalu menunaikan shalat pada waktunya. Orang tersebut juga memiliki perilaku kedermawanan dan keyakinan atas hari akhir. Aisyah istri Rasulullah menjelaskan berdasarkan sabda Rasulullah bahwa Allah mencintai ibadah yang dilakukaan dengan dawam istikamah atau konsisten walaupun sedikit. 

 Menelusuri kepedulian para praktisi dan akademisi bimbingan konseling spiritual religius sebenarnya telah digagas pada tingkat dunia. Sebagai contoh semenjak tahun 2013 para praktisi dan akademisi bimbingan konseling spiritual religius Negara Turki telah menggagas untuk mengorganisir kongres Internasional Bimbingan Konseling Spiritual Religius. Agenda tersebut dapat terlaksana pada tahun 2016 dengan diadakan   kongres Internasional Bimbingan Konseling Spiritual Religius bertempat di Istambul tanggal : 7-10 April 2016 dengan dihadiri para pakar dari berbagai Negara. Para pakar Bimbingan Konseling Spiritual Religius tersebut berasal  dari Turki, Eropa, Amerika, Negara Negara di Asia Tenggara, dan Negara Negara Islam. Di antara yang hadir dan presentasi pada acara tersebut para pakar ilmuan bimbingan konseling spiritual religius dan ilmu psikologi yaitu Prof. Robert Frager and Prof. Harold Koenig.  Tentunya sebagai ilmuan, praktisi, akademisi, ataupun peneliti dalam bidang bimbingan konseling spiritual religius dan ilmu psikologi selayaknya untuk merawat dan melanjutkan kegiatan yang mulia tersebut. Wallahu ‘alam bishawab.




Back to Top